Hanya menghimbau : “Teman-teman harap sabar. Itu oknum anggota dewan terhormat, jangan digeneralisasi.”
Biarpun mereka sedang menggeneralisasi kita dengan segala tuduhan, tetaplah pada keyakinan awal akan komitmen perubahan. Jaga diri jangan sampai terbawa emosi sesaat.
Seperti kita yakin bahwa kasus yang telah mencoreng instansi kita itu hanyalah ulah oknum, begitu pulalah yang terjadi. Itu hanyalah pendapat salah satu oknum, bukan keputusan final lembaga dewan terhormat.
Setelah masalah yang satu itu selesai meskipun terlambat, saya lalu memperbaharui isi daftar Kartu Keluarga.
Syarat pembaharuan Kartu Keluarga adalah :
- Fotocopy KTP Anggota Keluarga;
- Kartu Keluarga yang dirubah (lama);
- Surat Pengantar dari Ketua Rukun Tetangga (RT) dan/atau Rukun Warga (RW) setempat.
Di Kartu Keluarga terdapat bubuhan tanda tangan dari Ketua RT, saya kepala keluarga, dan Lurah.
Permasalahannya adalah dengan surat pengantar itu Lurah tidak mau membubuhkan tanda tangannya. Dan saya mesti kembali lagi besok untuk meminta tanda tangannya. Padahal jelas-jelas saya adalah rakyatnya! Buktinya, ya surat pengantar itu saya sendiri yang meminta kepada Bapak Ketua RT/RW setempat.
Selengkapnya… »
Baru saja saya kembali dari ijin ke kelurahan untuk mengambil KTP saya yang salah mengeja nama saya. Berkas sudah saya masukkan 10 (sepuluh) hari kerja yang lalu dan disebutkan bahwa KTP akan jadi 10 (sepuluh) hari.
Hari ini saya memohon ijin untuk mengambil dan sekaligus mengurus penambahan KK saya dengan data istri saya yang baru saya nikahi setengah tahun yang lalu. Namun apa yang terjadi di kelurahan?
Sebenarnya saya lupa, jadi saya akan mendengarkan dulu rekaman keadaan yang sengaja saya lakukan untuk menangkap pembicaraan saya sendiri dengan mereka dengan alat canggih pinjaman. :-D
Selengkapnya… »
Ini mungkin adalah pengalaman pertama dan terakhir kalinya dalam hidup saya. Ya saya berjanji.
Saya tidak akan menceritakan secara gamblang pada saat ini. Mungkin akan saya lengkapi nanti setelah semua urusan dan persiapan telah selesai.
Yang jelas saya merasa kehidupan saya saat ini sebagai seorang abdi dilecehkan karena ulah sebagian kecil teman seprofesi. Dengan berkedok kelengkapan administrasi mereka melakukan hal yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan karena semua sudah dicukupkan sesuai dengan hak mereka.
Saya sebagai salah satu orang yang mencari sumber dana bagi negara ini merasa dilecehkan! Sudah merasa mempunyai kekuatan super saja mereka dengan memiliki kedudukan dalam administrasi di negara ini karena apapun yang berhubungan dengan yang ada di wilayah mereka.
Abdi apa preman, hah?