Blog.YHT.Web.ID

Icon

Bosan adalah awal dari penciptaan perubahan.

Apakah BlankOn Ringan?

Saya membuat artikel ini bukan untuk membuat antipati pengguna yang ingin berpindah atau mencoba, namun ini adalah intisari yang saya dapat dari pengalaman me-‘racun’-i orang menggunakan BlankOn.

Suatu sore yg cerah ada 2 orang berbincang ( E = e.. ini dia orangnya; S = saya ) :
E : Mas ada installer linux?
S : Ada, BlankOn.
E : Wah, aku bingung kalo pake Bahasa Indonesia, ada Bahasa Inggris-nya nggak.
S : Bisa. (setengah syok, kenapa ni anak gak ngajak ngobrol Bahasa Inggris aja sekalian kalo bingung)
E : Ya, udah.. Boleh dech..
S : Ini ada satu, bawa aja aku masih punya banyak.. (sok dermawan)
E : Mas, ini installnya gimana?
S : Tinggal klik-klik doank kog.. (ngomong dari meja, sambil sok sibuk)
E : Oh, ya udah mas.. Makasih ye..

Tak berapa lama…

E : Mas kog ini berat ya…
S : Ah, Masa’ sih? (sambil masih sok sibuk)
E : Iya nih..
S : Emang buka apaan? (mulai terusik)
E : Berkas xlsx
S : Oh, kalo xlsx emang setahuku belum begitu sempurna.. (sambil berjalan menghampiri)
E : Terus gimana ini ternyata sama aja..
S : (terdiam melihat aplikasi yg dibuka, 5 biji)
S : Emang itu komputer apaan?
E : P4 RAM 512MB
S : HD-nya mulai goyang kali (jawaban ngasal)
E : Terus ini salah gue, salah komputer gue?
S : (syok denger jawabannya)

Anda pernah mengalaminya?

Sepanjang pengalaman saya ada beberapa hal yg bisa memperlancar pekerjaan :
1. Kenali perangkat;
2. Fokus, gunakan perangkat seperlunya saja;
3. Jangan memaksakan kehendak, optimalkan yang ada.

Saya pernah bekerja menggunakan 2 (dua) buah komputer spesifikasi P4 RAM 128MB sampai dengan beberapa bulan yang lalu untuk mengerjakan pekerjaan kantor dalam pengolahan basis data. Tidak ada masalah berarti yang saya alami selain optimalisasi perangkat. Dan salah satu mesin masih berjalan sampai dengan saat ini karena aplikasi yang ada di dalamnya masih digunakan.

Selamat beraktivitas dan mencicipi BlankOn.. Dan jangan pernah berkata berat bila Anda tidak paham.. 🙂

Kategori: /artikel

Tag: , , , , , , ,

8 Responses

  1. S : Bisa. (setengah syok, kenapa ni anak gak ngajak ngobrol Bahasa Inggris aja sekalian kalo bingung)

    Persis seperti saya. Tapi saya yang dulu. Saya yang arogan. Saking pengennya teman-teman memakai Linux, saya memaksakan keinginan saya kepada mereka. Sekarang saya sudah berhenti seperti itu.

    Saya dulu juga begitu. Dan saya yang sekarang bisa mengatakan kalau itu adalah semacam arogansi. Saya ingin dia pakai ini, makanya saya mengglobalkan apa yang dia khususkan. Aka, menyalahkan pandangan dia.

    User ingin yang bahasa inggris maksudnya dia ingin aplikasi yang bertampilan inggris, bukan bahasa sehari-hari. Ini masalah kebiasaan, saya biasa menyebutnya user experience. Saya yakin Anda lebih ngerti. Saya dulu ngotot, sekarang saya pahami setelah beberapa kali mendengar kajian dari http://kajian.net. Memang user biasa bicara pakai bahasa indonesia (umum), tapi untuk masalah komputer (khusus), mereka semenjak kecil sudah pegang yang Inggris. Mereka bahkan diajari arti-arti kata yang mereka hadapi di komputer itu. Maka sepatutnya user experience lebih diperhatikan oleh devboi dalam mengerjakan Blankon. Kita tak perlu memaksakan keinginan kita untuk membahasaindonesiakan komputer di seluruh Indonesia. Caranya? Kalau mereka mintak yang bahasa inggris, ya kasih. Jangan disembunyikan.

    Mohon jangan disalahpahami sebagai kemarahan, Mas. Saya masih pengguna Linux sampai hari ini. Saya tetap suka Linux dan tertarik dengan pengembangan. Saya hanya menyayangkan sikap kita yang selama ini seakan ingin ‘semua orang mendapat hidayah’ tapi secara memaksa, padahal hidayah urusan Allah. Biar mereka memilih, kasih pilihan, tunjukkan akhlaq yang baik kepada mereka. Saya yakin mereka bakalan mau 🙂

    Saya menulis komentar ini sebagai seorang pengguna yang goblog, yang gak bisa mrogram, tapi peduli kepada Blankon. Saya senang teknologi dan saya nggak mau devboi mandheg kelak karena tak mau mendengar penggunanya.

    Saya sangat berterima kasih kalau mas mau mengirim jawaban ini ke blog saya 🙂 Terima kasih.

    • yht says:

      [1]
      Anda membaca dari awal? Saya tidak memaksa dia menggunakan BlankOn, dia yang bertanya kepada saya mengenai Installer linux dan saya menyodorkan BlankOn karena hanya itu yang saya miliki saat itu.

      [2]
      Arogan dan tegas itu adalah suatu hal yang berbeda. Silakan baca ulang dengan perlahan dan diresapi. 😉

      [3]
      Sudah pernah install BlankOn? Apakah disembunyikan?

      [4]
      Saya ndak marah.. Ekspresi bahasa marah itu ada tanda baca [!]. Mohon dicermati.

      [5]
      Saya lebih suka menjawab via surat elektronik.
      Dan jawaban ini juga saya kirim ke milis pengguna BlankOn.

      Terima kasih.

  2. mautauaja says:

    File xlsx memang menjadi kendala dikala ukurannya besar dan atau dalam 1 sheet aktif hampir mencapai 1juta rows.
    Saya pernah membuka file xlsx yang merupakan hasil konversi dari aplikasi akuntansi yang dipecah menjadi 12 bagian (sesuai bulan). Begitu digabung, walah… Hampir 1 juta rows dan otomatis amat sangat berat bila dibuka pada PC jadul (apalagi RAM-nya hanya 512 MB) dan laptop (ŁidɑЌ peduli sudah OS 64 bit dan RAM 4 GB sekalipun).
    File besar tersebut dapat lancar dibuka dan diedit menggunakan aplikasi Microsoft Office 2010 pada prosesor Intel Dual Core 3,4 Ghz Dёπƍǟπ RAM hanya 2 GB.
    Kemampuan edit xlsx berukuran besar dapat dilakukan Dёπƍǟπ mudah menggunakan Office 2010 dibanding Office 2007 walaupun Office 2007 diinstall pada PC yang lebih canggih. Ini sudah saya buktikan pada PC desktop rekan dimana RAM yang diginakannya sudah 4GB dan OS-nya Windows 7 64 Bit.
    Saya setuju untuk mengenali lebih mengenali perangkat.

    • yht says:

      Saya tidak pernah menyarankan membuka sebuah berkas spreadsheet yang besar dengan aplikasi office suite apapun. Menurut saya, sebuah aplikasi office suite tidak di-desain untuk mengolah data yang besar dengan kompleksitas tinggi.

      Untuk data yang besar dengan kompleksitas tinggi sudah ada aplikasi basis data, mengapa tidak menggunakannya?

  3. mautauaja says:

    File xlsx memang menjadi kendala dikala ukurannya besar dan atau dalam 1 sheet aktif hampir mencapai 1juta rows.
    Saya pernah membuka file xlsx yang merupakan hasil konversi dari aplikasi akuntansi yang dipecah menjadi 12 bagian (sesuai bulan). Begitu digabung, walah… Hampir 1 juta rows dan otomatis amat sangat berat bila dibuka pada PC jadul (apalagi RAM-nya hanya 512 MB) dan laptop (ŁidɑЌ peduli sudah OS 64 bit dan RAM 4 GB sekalipun).
    File besar tersebut dapat lancar dibuka dan diedit menggunakan aplikasi Microsoft Office 2010 pada prosesor Intel Dual Core 3,4 Ghz Dёπƍǟπ RAM hanya 2 GB.
    Kemampuan edit xlsx berukuran besar dapat dilakukan Dёπƍǟπ mudah menggunakan Office 2010 dibanding Office 2007 walaupun Office 2007 diinstall pada PC yang lebih canggih. Ini sudah saya buktikan pada PC desktop rekan dimana RAM yang diginakannya sudah 4GB dan OS-nya Windows 7 64 Bit.
    Saya setuju untuk lebih mengenali perangkat.

  4. herua aditya says:

    ane gak pernah berhasil ngeracuni teman2 ane untuk beralih ke linux…satu kelas pada buat grup windows lovers sih 🙂

    • yht says:

      Bagi saya ini bukan masalah racun-meracun. Setiap orang punya kenyamanan sendiri dan ini adalah masalah selera.
      Mereka tidak masalah dengan apa yang mereka lakukan sepanjang itu tidak menimbulkan masalah bagi mereka.

Leave a Reply