Blog.YHT.Web.ID

Icon

Bosan adalah awal dari penciptaan perubahan.

Korban Beruntun

Berdiam, seringkali aku lakukan saat orang-orang disekitarku mengingatkan kembali luka terhadap instansi dimana aku bekerja.

Posisiku yang baru membuat aku berada pada posisi aman dimana tidak langsung berhubungan dengan para penanggung beban anggaran negeri ini. Posisi lamaku bisa dibilang juga aman, namun tetap saja terkadang ada godaan-godaan dari mereka yang ingin di-‘spesial’-kan atau merasa diri ‘spesial’.

Sebenarnya semua aman sampai dengan tadi siang saat aku mendengar nama orang yang sebenarnya akupun tak mengenalnya itu terungkap dari saudara jauhku. Mau tidak mau aku menerima dengan hati yang sakit. Sebenarnya ungkapan itu muncul dalam suasana penuh canda, namun tetap saja membuat hatiku merasa sakit.

Aku tak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mudah saja pemberitaan menyebar dan digembar-gemborkan tanpa tedeng aling-aling dengan dalih kebebasan pers. Sedangkan bila instansi lain, bagaikan menyiram air di padang gurun.

Refleksiku hari ini mengingatkanku pada besarnya beban yang harus ditanggung dan sebagian itu digunakan untuk membayar hutang. Tapi hal itu masih menimbulkan pertanyaan, “Apakah negeri ini harus pailit karena ketidak-percayaan?”

Entahlah..

Aku hanya mengingat seorang direktur pernah berkata, “Kita ini bagaikan artis cantik. Sedikit saja pakaiannya tersingkap, semuanya akan heboh.”

Saat ini sudah beberapa kali pemberitaan mengenai beberapa orang oknum yang diindikasikan menyalahgunakan wewenangnya. Biarlah mereka menjalani semua untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan biarlah media mengikuti setiap perkembangannya sesuai proporsi dan fakta yang ada. Pemberitaan yang baik adalah sebuah fakta tanpa bumbu opini di setiap detilnya.

Semua yang terjadi bisa aku artikan sebagai perusakan moral. Sebelum fakta terungkap jelas kehebohan, tudingan dan bahkan caci maki keluar terlebih dahulu. Dan dengan pemberitaan media yang luas bisa membentuk suatu opini masyarakat. Dan apa yang terjadi setelahnya?

Aku terkadang hanya bisa membayangkan, bila anakku diejek teman-teman-nya yang notabene tidak mengerti apa-apa, mengenai segala hal ini. Apa bisa ia menerima tekanan itu?

Sekali lagi pertanyaan itu muncul, “Apakah negeri ini harus pailit karena ketidak-percayaan?”.

Kategori: /ego

Tag: , , , ,

Leave a Reply