Blog.YHT.Web.ID

Icon

Bosan adalah awal dari penciptaan perubahan.

Nasib Pendidikan IT di Indonesia, Gerakan IGOS dan Dunia Bisnis

Ini hanyalah tanggapan saya akan kekhawatiran rekan-rekan terhadap generasi muda dan hasil perdebatan saya di forum AOSI facebook. Apa yang ada di sini adalah berdasar pengalaman saya.

Saya adalah seseorang maniak free software/opensource. Namun latar belakang pendidikan saya, sejak pertama kali mengenal komputer, saya dikenalkan dengan produk microsoft. Bedanya, dulu saya belajar dalam lingkup non-formal karena semua hanya berupa sertifikasi dari kegiatan extra-kurikuler sedangkan yang dipermasalahkan pelajaran formal.

Latar belakang pendidikan bukan prioritas utama untuk saat ini, menurut saya. Yang terpenting adalah pembangunan diri para generasi muda agar memiliki pola pikir yang positif. Bila memang mereka belajar dengan menggunakan perangkat berbayar tak apa, toh itu legal. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dunia bisnis bisa menerima konsekuensi untuk memiliki fasilitas perangkat legal yang dikuasai para pegawai? Moral pembajaklah yang harus dikikis. Free Software / Open source adalah salah satu cara menumbuhkan pola pikir positif dengan tidak merugikan siapapun dalam mengembangkan diri.

Lalu mengapa hal ini terjadi? Apakah greget IGOS menurun saat ini sehingga para pemegang keputusan pencanang kurikulum memutuskan hal ini? Kita tak perlu menutup mata. Namun kita harus kembali melihat ke dunia bisnis yang memang lebih condong ke perangkat proprietary. Jadi masih diperlukan tenaga kerja baru yang mengerti teknologi propietary tersebut, bukan?

Sebagai contoh, semua perangkat pengguna akhir di instansi saya menggunakan produk microsoft untuk sistem operasinya yang disertakan dalam perangkat keras. Sedangkan perangkat yang lain saya kurang tahu lisensinya. Padahal gerakan IGOS sudah berumur 7 (tujuh) tahun. Ini bukan murni kesalahan dari pemilik wewenang penetapan tender lelang. Mari kita kupas masalah ini satu persatu dari berbagai sudut pandang.

1. Sudut Pandang Hukum
Dari peraturan yang diterbitkan tidak memiliki penegasan penggunaan perangkat lunak tertentu, yang ditetapkan adalah perangkat lunak legal. Kelegalan produk ada pada lisensi. Jadi bila instansi Anda memiliki dana berlimpah kenapa harus menggunakan yang berlisensi tak jelas?
Coba tanyakan kepada pembuat peraturan, dalam hal ini Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.

2. Sudut Pandang Dukungan
Saya pernah berdiskusi dengan salah satu rekan kerja yang bekerja pada bagian perencanaan dan pembangunan teknologi informasi di instansi tempat saya bekerja. Pada dasarnya mereka terbuka dengan berbagai macam teknologi yang ada, namun adakah pihak yang ikut serta dalam lelang pengadaan yang mengusung teknologi selain proprietary?
Hal ini bisa ditanyakan ke Asosiasi Open Source Indonesia.

3. Sudut Pandang Tolak Ukur
Dalam pengukuran kinerja instansi, salah satu tolak ukurnya adalah penyerapan anggaran. Atau kinerja berbasis anggaran. Bila penyerapan anggaran tidak sesuai dengan rencana, anggaran tahun berikutnya akan dikurangi dan diberikan sanksi. Mungkin ini berbeda dari swasta yang akan lebih berbahagia bila bisa berhemat.

4. Sudut Pandang Ego/Harga.
Eh, anggaran loe segitu kog pake gratisan? Sok miskin loe ya? Tahun depan anggaran loe dikurangi nyaho loe… 😛

5. Sudut Pandang Penetapan Pemenang Lelang
Banyak pertimbangan di sini. Tiap teknologi akan berbeda dan saling berkompetisi di sini.

Jadi, ketika kita membicarakan Pendidikan dan Gerakan IGOS, kita tidak bisa meninggalkan dunia bisnis. Karena ketiganya saling berkaitan. Ketiganya tersangkut pada sebuah sinergi. Kebutuhan dunia bisnislah yang menuntut adanya pengajaran. Namun bila ditelisik lebih dalam sebenarnya pengajaran bisa diberikan oleh dunia bisnis sendiri. Apalagi untuk bekerja yang lebih dibutuhkan adalah tingkat kemahiran yang sesuai dan ditentukan dengan sertifikasi.

Namun saya paham apa yang rekan-rekan penggiat free-software/opensource risaukan. Ya, dengan penetapan kurikulum seperti ini mereka merasa kehilangan dukungan dari Kementerian Pendidikan Nasional. Sedangkan pendidikan itu merupakan dasar menetapkan pola pikir. Namun saya juga merasa tak ada salahnya mereka menetapkan hal itu karena kebutuhan tenaga khususnya free-software/opensource tidak terlalu banyak, kan? Coba Anda pikir bila mereka lulus nanti, mereka akan bekerja dimana?

Nah, jangan pernah terjebak di sini. Free Software / Opensource dimulai dengan semangat untuk menumbuhkan kreativitas. Jika Anda seorang yang 100% kreatif, apakah Anda takut tentang masa depan Anda?

Banyak yang bisa dipelajari dan dikembangkan dalam dunia Free Software / Opensource. Tiada hari tanpa belajar, bahkan untuk seorang profesional. Tapi apakah setelah belajar Anda bisa dengan leluasa mengimplementasikan dan mengembangkannya? Di sinilah letak nilai tambahnya. Anda bisa ikut berkontribusi, apapun wujudnya.

Mungkin masih banyak yang lain yang tak terpikirkan oleh saya. Semoga membantu Anda untuk tetap berpikir positif menyikapi semuanya.

Dengan sisa tenaga yang ada mari kita teruskan gerakan Indonesia Go Open Source!

Kategori: /artikel

Tag: , , , , ,

9 Responses

  1. rotyyu says:

    Kurang mengena ke inti permasalahan kayaknya

    • yht says:

      Maklum, pak… Masih belajar nulis…
      Ada tambahan?

      Sudah saya coba perbaiki susunannya. 🙂

      • rotyyu says:

        IMHO, kurikulum itu seharusnya tidak perlu berpihak ke salah satu pihak, tidak free software/open source apalagi sampai memihak propietary atau MS. Juga seharusnya tidak perlu ada pemaksaan ke pada siswa apalagi mahasiswa utk menggunakan merk tertentu.

        • yht says:

          Ya memang seharusnya tidak berpihak. Jadi, bagaimana cara mengajar yang baik yang tidak bersinggungan dengan itu, toh mengajar perlu contoh konkrit, kan? *jadi-inget-iklan-ah-teori*

          Mempersiapkan bahan ajar yang baik itu memang perlu persiapan matang agar anak didik dapat menerima dan menerapkannya dengan baik.

  2. zarathustra says:

    Klo bicara foss di pendidikan ibarat ayam & telur, sapa yang mesti duluan melakukan apa, atau sapa yang mesti bertanggung jawab ga usah dibikin pusing…..

    Jadi inget petuah2 yang di ajarin waktu di SD dulu, “Jangan tanya apa yang diberikan negara untukmu, tapi lakukan apa yang mesti kamu lakukan untuk negaramu” (*** Cuman relevan ga ya dengan kondisi Indonesia yang udah bobrok karena di korupsi seperti sekarang ini…. kekeke…..) CMIIW.

    • yht says:

      Wah, master penerbang datang. Dah sampai awan yang mana, pak? 😀

      Ya, memang pelajar itu selain belajar di sekolah masih bisa juga belajar di tempat lain. Orang tua (atau dituakan) juga memeiliki peran penting sebagai yang mengajarkan dan mengarahkan.

      Makanya, saya mengarahkan/menyinggung dunia bisnis. Karena pendidikan itu tak akan berguna bila tidak dibutuhkan di dunia bisnis. (Saya sengaja menyempitkan karena TI dibutuhkan dalam bisnis, kan?)

      Tapi, ada juga pepatah : “Witing tresna jalaran saka kulina”. Cinta itu lahir karena terbiasa/dibiasakan. Pengajaran seperti ini, pelan-pelan menjerumuskan. 😛

      Bagaimana kabar teman-teman pebisnis, pak bos?

  3. zarathustra says:

    Penekanan bisnis adalah sapa yang kuat itu yang menang. Disini kondisi OSS yg lebih bersifat swadaya bisa dibilang mesti kerja keras. Beruntunglah dunia awan hadir jadi penengah, batasan oss & priopertary jadi blur. Namun, bukan berarti battle is over. Hanya saja udah bukan concernnya end user lagi. So,klo bisa murah tapi bagus kenapa mesti bayar mahal =))

    Klo aja ane bisa sebut perusahaan pengguna cloud berbasis linux, ada banyak perusahaan besar yg pake bahkan ga pernah kita duga sebelumnya. Sayangnya ga bisa kekeke….

    • yht says:

      Ya, makanya saya juga menekankan dalam pendidikan untuk kemahiran dalam berbisnis itu sendiri kan bisa diakomodasi dunia bisnis sendiri dengan mendidik pegawainya. Bukankah dalam bisnis lebih disukai yang bersertifikat kemahiran daripada yang berpendidikan tinggi? Bila saya pemilik bisnis, saya akan menerima yang mahir. 😛

      Kenapa gak bisa om? Rahasia perusahaan ye? 😀

  4. […] pemikiran saya dari segi bisnis setelah saya baca ulang memang terkesan egoistis. Mengingat pada awal artikel saya membahas […]

Leave a Reply