Blog.YHT.Web.ID

Icon

Bosan adalah awal dari penciptaan perubahan.

Surat Elektronik akan ‘Mati’ Terbunuh Situs Jejaring Sosial?

The Economic Times menulis artikel bahwa surat elektronik akan punah dalam satu dekade. Dalam hasil study yang diprakarsai oleh TalkTalk tersebut menyebutkan bahwa saat ini dominasi situs jejaring sosial dan atau pun jasa layanan pesan yang ada berkembang sangat pesat, dan keduanya akan menggeser layanan surat elektronik sebagai media pengiriman pesan.

Ya, saat ini sering orang mengejek teman atau kolega yang tidak punya akun facebook atau twitter. Ini bisa jadi sebuah gangguan kenyamanan bagi sang teman. Ini terjadi bukan saja orang dewasa atau abegeh tapi juga anak yang baru masuk sekolah dasar yang saya tidak tahu bagaimana cara mereka memiliki akun itu. Dalam tulisan ini saya akan menggunakan keduanya sebagai acuan.

Pertanyaan yang selalu ada di benak saya adalah ‘apa yang menjadi sebab situs-situs tersebut menjadi sebuah keharusan bagi sebagian besar orang?’. Toh, bila ingin mengirimkan pesan kita mempunyai jalur sendiri sesuai kemampuan kita, sekedar sms misalnya. Bahkan dalam beberapa waktu saya sempat bingung mengapa seseorang itu sangat suka bila kehidupannya dan apa yang ia rasakan terekspos secara luas. Saya sering membaca status di facebook yang sering kali tak harus diekspos dan ingin sekali rasanya tidak mengikuti tulisan sampah yang bertebaran bahkan kadang ingin menghapus dari daftar teman. Suatu dunia tanpa batas dan ini menjadi ajang aktualisasi diri?

Lalu bagaimana pendapat saya mengenai hal ini? Satu yang menjadi keyakinan saya, meskipun menggunakan media lain sebagai sarana berkomunikasi setiap orang pasti memiliki setidaknya 1 (satu) akun surat elektronik. Untuk mendaftar sehingga bisa berkomunikasi dengan bagian administrasi dari situs tersebut setiap pemilik akun harus memiliki alamat surat elektronik. Surat elektronik tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Meskipun para pengembang situs telah membuat pustaka (API) yang bisa mempermudah pihak lain untuk memanfaatkan layanan mereka, tetap saja ini merupakan standar dari setiap perusahaan. Ya, saya telah mencari RFC sebagai acuan pengembangan perangkat secara internasional dengan kata kunci ‘social networking’ dan tidak menemukan apapun didalamnya.

o Based on your search of [social networking] in the All Fields field zero matches were made.
Sorry, please try again.

Sedangkan bila saya mencari dengan kata kunci ‘mail’ saya mendapatkan hasil.

o Based on your search of [mail] in the All Fields field 345 matches were found
– Below you will find matching items 1 through 25

Apakah mungkin sesuatu yang tidak atau belum distandarkan akan ‘membunuh’ sesuatu yang standar?

Menilik pada protokol yang digunakan, situs jejaring sosial masih menumpang pada protokol HTTP atau web. Dan apakah mereka memenuhi standar dari W3C sebagai organisasi pengembang standar web?

Setelah saya cek facebook menggunakan Markup Validation Service milik W3C, masih banyak pesan kesalahan yang muncul dari web ini.

Result: 44 Errors, 4 warning(s)
Address: http://www.facebook.com/
Encoding: utf-8
Doctype: XHTML 1.0 Strict
Root Element: html
Root Namespace: http://www.w3.org/1999/xhtml

Sedangkan untuk twitter saya menemukan lebih banyak pesan kesalahan.

Result: 63 Errors
Address: http://www.twitter.com
Encoding: utf-8
Doctype: XHTML 1.0 Strict
Root Element: html
Root Namespace: http://www.w3.org/1999/xhtml

Jadi apa kesimpulannya? Keduanya tidak memenuhi standar web.

Memang tidak saya pungkiri bahwa keduanya merupakan trend masa kini. Tapi apakah ini akan menjadi tren sesaat seperti kata Pak Roy Suryo mengatai blogger? Yang jelas, keduanya adalah tren sesat. Banyak orang mengakses situs tersebut dan menjadi kecanduan bahkan sebagian merupakan anak yang baru tumbuh seusia sekolah dasar sudah dirasuki hal semacam ini tanpa batasan dari orang tuanya. Akan menjadi apa generasi ini?

Kesimpulan saya, surat elektronik tak akan mati. Ia hanya akan ber-‘mutasi’. Kita tunggu saja akan menjadi apa ia nantinya.

Kategori: /artikel

Tag: , , ,

Leave a Reply